Antisipasi El Nino 2026, DTPH Sulteng Gandeng BMKG-BPBD Perkuat Mitigasi
Antisipasi El Nino 2026, DTPH Sulteng Gandeng BMKG-BPBD Perkuat Mitigasi
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Sulawesi Tengah memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino 2026 dengan menggandeng BMKG dan BPBD.
Langkah ini dibahas dalam dialog interaktif di TVRI Sulawesi Tengah bertema “Antisipasi El Nino Ekstrem” yang menghadirkan Sekretaris DTPH Sulteng, Agustin M. Tobondo, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi A. Sembiring, serta perwakilan BMKG dari SPAG Lore Lindu, Solih Alfiandy.
BMKG memprediksi sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah akan mengalami curah hujan di bawah normal pada musim kemarau 2026. Musim kemarau diperkirakan datang lebih awal, mulai Juni hingga Agustus, dengan puncak pada September.
Solih menjelaskan fenomena El Nino yang terjadi diprediksi masih dalam kategori lemah hingga moderat, sehingga dampaknya tidak terlalu ekstrem.
“Penurunan curah hujan maksimal sekitar 40 persen, namun masih ada potensi hujan di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada istilah tidak resmi seperti “El Nino Godzilla” karena bukan terminologi ilmiah.
Sementara itu, Agustin menyebut pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk melindungi sektor pertanian, khususnya padi yang rentan terhadap kekeringan.
Langkah tersebut meliputi edukasi petani, penyesuaian kalender tanam, penyediaan benih tahan kekeringan, hingga dukungan alat dan mesin pertanian serta pompanisasi.
Selain itu, DTPH juga memetakan wilayah rawan kekeringan. Dari total sekitar 126 ribu hektare lahan sawah, sekitar 24.903 hektare berpotensi terdampak, terutama di wilayah Parigi Moutong dan Banggai.
“Kami terus berkoordinasi dengan penyuluh di seluruh kabupaten/kota agar respons di lapangan bisa cepat,” jelas Agustin.
Di sisi lain, BPBD Sulteng memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana turunan El Nino seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Andi mengatakan pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah rawan, di antaranya Lembah Napu, Parigi Moutong, dan Tentena. BPBD juga memantau titik api berbasis satelit serta memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Kami juga mengoptimalkan layanan call center ‘Berani Samporoa’ untuk mempercepat laporan masyarakat,” ujarnya.
Ketiga narasumber menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, petani, dan masyarakat dalam menghadapi El Nino. Masyarakat diimbau tetap waspada, mengelola air dengan baik, serta rutin memantau informasi resmi dari BMKG.
Dengan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah optimistis mampu menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

Posting Komentar