Dari Jalan Sehat ke Jalan Jajan, Warga Palu Nikmati Ramadhan dengan Cara Baru
Dari Jalan Sehat ke Jalan Jajan, Warga Palu Nikmati Ramadhan dengan Cara Baru
Ada yang berbeda di Kota Palu selama Ramadhan 1447 Hijriah. Jika biasanya Minggu pagi identik dengan Car Free Day (CFD) di Jalan Moh. Yamin, kini suasana justru bergeser ke malam hari. Pemerintah Kota Palu resmi mengganti CFD dengan konsep baru bertajuk *Weekend Ramadhan Night Market*.
Kebijakan ini diberlakukan sejak awal puasa sebagai bentuk penyesuaian terhadap ritme aktivitas masyarakat selama Ramadhan. Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menjelaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar pemindahan waktu, melainkan strategi agar ekonomi tetap bergerak tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah.
“Pasar malam digelar setiap malam Minggu dan malam Senin, mulai pukul 21.00 hingga 01.00 WITA,” jelasnya.
Jika sebelumnya warga berolahraga dan berburu jajanan di pagi hari, kini keramaian berpindah ke sekitar Lapangan Vatulemo. Jalur dua di kawasan tersebut ditutup sementara demi memberi ruang bagi sekitar 300 pelaku UMKM yang telah terdaftar.
Lampu-lampu tenda berpendar, aroma makanan menggoda, dan alunan percakapan warga berpadu menciptakan suasana khas Ramadhan. Bukan hanya makanan dan minuman untuk berbuka maupun sahur yang dijajakan, tetapi juga aneka produk fashion seperti pakaian, kacamata, hingga bunga hias.
Bagi para pedagang, kebijakan ini menjadi angin segar. Salah seorang penjual kacamata mengaku omzetnya tetap stabil, bahkan cenderung meningkat karena mayoritas pengunjung adalah remaja dan anak muda yang gemar tampil modis.
“Kegiatan ini sangat menguntungkan. Walaupun CFD pagi ditiadakan, pasar malam justru memberi peluang baru,” ujarnya.
Penulis : Ahirna - Mahasiswa Magang Untad
Perubahan waktu ternyata tidak menyurutkan minat warga. Justru, suasana malam memberi daya tarik tersendiri—lebih santai, lebih hangat, dan lebih sesuai dengan pola aktivitas masyarakat saat berpuasa.
Tak hanya pedagang yang merasakan manfaatnya. Ka Ani, salah seorang pengunjung, menyebut pasar malam ini sebagai “penyelamat” waktu sahur.
“Sebagai perantau dan pekerja, kami tidak perlu repot menyiapkan makanan sahur. Tinggal datang, pilih sesuai selera, semuanya tersedia,” katanya.
Bagi banyak warga, kehadiran pasar ini bukan hanya soal transaksi, tetapi juga ruang temu sosial—tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati suasana Ramadhan bersama.
Langkah Pemkot Palu ini dinilai sebagai inovasi yang adaptif. Alih-alih menghentikan aktivitas ekonomi selama Ramadhan, pemerintah justru mengemasnya dalam format yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dari pagi yang lengang ke malam yang gemerlap, Palu membuktikan bahwa perubahan tak selalu berarti kehilangan. Justru di bulan suci ini, denyut kota terasa tetap hidup—berpindah waktu, namun tetap memberi makna.

Posting Komentar