Demo Kedua Warga Donggala Tuntut Kejelasan Pengoperasian Kapal Pelni, Sempat Blokade Jalan di Desa Kabonga
Demo Kedua Warga Donggala Tuntut Kejelasan Pengoperasian Kapal Pelni, Sempat Blokade Jalan di Desa Kabonga
Donggala – Aksi demonstrasi kedua digelar oleh masyarakat Kabupaten Donggala pada Sabtu, 14 Februari. Aksi tersebut merupakan bentuk aspirasi warga terkait penundaan pengoperasian kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) di Pelabuhan Donggala.
Dalam aksi tersebut, massa sempat memblokade jalan di Desa Kabonga yang mengakibatkan kemacetan panjang. Warga mempertanyakan kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, alasan kapal Pelni hingga kini belum berlayar dan bersandar secara aktif di Pelabuhan Donggala.
Massa aksi mengacu pada Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 612 yang menetapkan Pelabuhan Donggala sebagai titik singgah resmi operasional kapal penumpang Pelni. Mereka menilai keputusan tersebut seharusnya sudah direalisasikan.
Perwakilan massa menyampaikan kekecewaannya. “Selama 47 tahun kami menunggu terealisasinya Pelabuhan Donggala dilayari oleh kapal Pelni,” ujarnya.
Banyak warga Kabupaten Donggala berharap aktivitas pelabuhan dapat membuka lapangan pekerjaan, seperti buruh angkut barang dan sektor pendukung lainnya.
Dalam aksi tersebut, massa secara tegas menyatakan hanya ingin bertemu langsung dengan Gubernur Sulawesi Tengah. Mereka menolak negosiasi yang tidak menghadirkan Gubernur ataupun perwakilan resmi Pemerintah Provinsi. Massa menegaskan tidak akan membuka blokade jalan sebelum Gubernur atau perwakilannya datang menemui mereka saat itu juga.
Sebelumnya, masyarakat telah menggelar aksi damai di halaman Kantor Bupati Donggala. Namun, hingga kini mereka mengaku belum mendapatkan kejelasan atas aspirasi yang telah disampaikan, sehingga aksi lanjutan pun dilakukan.
Setelah sekitar dua jam melakukan pemblokiran jalan, Kepala Polresta Kabupaten Donggala datang ke lokasi untuk melakukan negosiasi. Dalam penyampaiannya, ia mengimbau massa agar tetap menjaga ketertiban.
“Marilah kita saling membantu. Izinkan saya menyampaikan aspirasi Bapak dan Ibu kepada Ibu Bupati dan Bapak Gubernur tanpa mengganggu ketertiban jalan. Jangan sampai massa mengganggu pengguna jalan lainnya,” ujarnya.
Ia juga mengajak massa untuk mencari lokasi yang lebih layak agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat, yakni kembali ke depan pelabuhan sebagai titik aksi.
Meski awalnya menolak negosiasi dan bersikeras menunggu kehadiran Gubernur atau perwakilannya, massa akhirnya mempertimbangkan imbauan aparat demi menjaga ketertiban umum. Setelah melakukan diskusi internal, mereka membuka kembali akses jalan dan membantu aparat kepolisian menertibkan kendaraan yang telah mengantre panjang selama aksi berlangsung.
Namun demikian, masyarakat menegaskan akan terus mengawal tuntutan mereka hingga ada kepastian resmi terkait pengoperasian kapal Pelni di Pelabuhan Donggala.
Penulis : Ahirna


Posting Komentar