Nasib 24 Petugas Kebersihan RSUD Anuntaloko Parigi Kehilangan Pekerjaan
Nasib 24 Petugas Kebersihan RSUD Anuntaloko Parigi Kehilangan Pekerjaan
Nasib 24 orang petugas kebersihan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anuntaloko Parigi, kini berada di ujung ketidakpastian, karena mereka harus tersingkir dan kehilangan Pekerjaan, lantaran terkendala syarat.
Merespons kondisi tersebut, Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Provinsi Sulawesi Tengah, Lukius Todama mengaku, ketidakpastian yang terjadi saat ini telah menimbulkan trauma bagi para petugas kebersihan lainnya.
"Ada pekerja yang sempat dipanggil bekerja, namun namanya kembali dikeluarkan secara tiba-tiba. Ini membuat mereka malu dan takut. Ketidakkonsistenan seperti ini sangat merugikan pekerja,” tegas Lukius.
Menurut Lukius, para petugas kebersihan yang sempat dipanggil bekerja namun namanya kembali dikeluarkan secara tiba-tiba oleh perusahaan sebagai pemenang tender baru penyedia jasa.
Petugas Kebersihan yang lama merupakan pekerja berpengalaman sangat dibutuhkan rumah sakit. Kata Lukius, apabila persoalan ini terus dibiarkan tanpa keputusan, dikhawatirkan akan berdampak pada kebersihan dan kualitas pelayanan di RSUD Anuntaloko Parigi.
“Kami meminta Plt Dirut RSUD Anuntaloko Parigi bersikap bijak dan segera mengambil keputusan. Jangan biarkan para pekerja ini terus menggantung tanpa kepastian, sementara rumah sakit membutuhkan tenaga mereka,” pungkas Lukius.
Sementara itu, Direktur perusahaan pemenang tender baru sebagai penyedia jasa cleaning service RSUD Anuntaloko Parigi, menegaskan, bahwa pihaknya tidak akan lagi menambah jumlah karyawan baru, menyusul telah ditutupnya proses penerimaan tenaga kerja sejak tanggal 5 Januari lalu.
Kemudian keputusan tersebut diambil, karena jumlah karyawan yang ada saat ini telah mencukupi dan sesuai dengan standar operasional perusahaan. Tidak hanya itu, perusahaan memastikan tidak menutup ruang kerja sama maupun menolak karyawan selama masih sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kami sudah tidak menambah karyawan lagi. Penerimaan karyawan sudah kami tutup dua hari lalu karena karyawan yang ada saat ini sudah cukup sesuai standar perusahaan,” kata Direktur PT Sarumaka Dwikarya Utama, Sumitro.
Sumitro turut menanggapi, penolakan para petugas kebersihan terhadap perusahaannya yang terus menguat, membuat pihaknya tetap teguh pendirian menjalankan operasional rumah sakit.
“Sederhana saja jawaban saya, yang Pertama mereka bukan lagi karyawan PT Sarumaka. Kedua, tidak ada lagi hubungan hukum karena kontrak kerja sudah berakhir. Jadi secara aturan, itu sudah jelas,” ujarnya.
Tidak hanya itu, dengan adanya sikap tidak objektif dari pihak serikat buruh turut dinilainya tidak lagi independen dalam menyikapi persoalan ketenagakerjaan tersebut yang diduga menjadikan petugas kebersihan dijadikan alat demi kepentingan tertentu.
“Saya melihat ada indikasi buruh dijadikan alat demi kepentingan tertentu agar perusahaan lain bisa masuk. Itu menurut saya tidak objektif dan tidak mencerminkan serikat buruh yang independen,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, pihak PT Sarumaka Dwikarya Utama berharap secara bersama dapat bekerja sama secara profesional. Bahkan, pihak Perusahaan tidak pernah menolak karyawan selama sesuai aturan.
"Saya berharap serikat buruh benar-benar menjadi organisasi yang independen, tanpa muatan kepentingan tertentu," tutupnya. (Amirullah)

Posting Komentar